Sunday, June 17, 2012

[Feature] 7 steps to build music branding

Setelah membaca - baca tentang Music branding, apakah sudah memiliki sedikit gambaran bagaimana bentuk dan wujudnya? Mungkin teman - teman yang punya brand atau grup musik yang sedang ingin mencoba, ini ada sedikit tips dari cult-branding.com yang akan saya share dan nantinya akan saya coba sedikit jelaskan dengan gaya bahasa saya sendiri. Semoga menginspirasi!

Jadi menurut cult-branding.com ada 7 tahapan yang perlu dilakukan untuk memulai music branding. Sebenarnya tips ini ditunjukkan untuk membuat cult-branding tapi menurut saya sedikit kurang bisa diaplikasikan.

Step 1: Determine where you are now.
Step 2: Discover your brand lover.
Step 3: Understand your brand lovers human need
Step 4: Address your key touch point.
Step 5: Translate your idea into creative communication.
Step 6: Train your organization.
Step 7: Put your knowledge to work.

Source: http://www.cult-branding.com/cult-branding-workbook/

[Feature] Motion City Soundtrack

Motion City Soundtrack
Postingan kali ini sedikit bergeser tidak membahas tentang brand dulu, karena temanya Music Branding jadi kurang afdol kalo nggak bahas tentang musisi / bandnya itu sendiri. Yuk mari kita tengok band asal minneapolis, minnesota ini. Motion City Soundtrack terbentuk pada tahun 1997 dan baru saja merilis album ke 5. Band ini sedikit banyak menjadi influence musik - musik era power pop di indonesia pada tahun 2006 - 2007 silam. Yang unik dari band ini, selain namanya yang catchy musiknya juga sedikit berbeda dengan menambahkan unsur synth moog yang memiliki suara sangat khas. Meskipun sebelumnya ada beberapa band seperti the get up kids yang mengusung instrument synth pada musik pop punk tapi menurut saya Motion City Soundtrack inilah yang paling sukses meramu resepnya. Di album ke 4 "My Dinosaur life" mereka pindah label dari Epitaph menjadi Columbia records dan berkerjasama dengan Mark Hoppus sebagai produser.


Motion City Soundtrack juga pernah ikut dalam Converse Rubber Tracks yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya. Mereka merekam lagu "True Romance" dari album ke 5 mereka, dengan aransemen musik yang sedikit berbeda dengan sound syhtesis yang banyak. Lagu ini bisa di donlod secara gratis di sini. Album ke 5 mereka akhirnya dirilis pada hari ulang tahun saya! hahaha Kado yang sangat menyenangkan dari Motion City Soundtrack. Langsung saja kunjungi websitenya kalo penasaran.

Thursday, June 14, 2012

[Review] Tak Sekedar Alas Kaki

Vans Half Cab

Setelah beberapa waktu silam membahas tentang vans warped tour, ada baiknya sedikit mengenal tentang brand apa yang berada dibalik acara termahsyur di amerika serikat ini. Vans berdiri pada tanggal 1 maret 1966 dengan nama Van Doren Rubber Company di Southern California. Awalnya Paul van doren muda berkerja di sebuah pabrik sepatu Randy's sebagai buruh. Karena keuletannya dalam bekerja hingga akhirnya Paul van doren menjadi Vice president Randy's Shoes. Setelah merasa memiliki cukup ilmu dalam dunia sepatu vulcanized, paul van doren membuat perusahaan sepatu sendiri bersama sahabat dan adiknya. Saat itu hanya ada 3 brand sepatu vulcanized, yaitu Randy's, Keds, dan Converse. Konsep awal brand vans adalah 'custom shoes', karena pada awalnya vans membuatkan sepatu hanya berdasarkan pesanan konsumen. Brand Vans semakin melesat saat sepatu vans checkboard keluar, hingga diangkat di beberapa film holywood. Pada tahun 80an vans pernah mengalami kebangkrutan, memiliki hutang sebesar $11juta - $12juta kepada para vendor bahan sepatu mereka. Kebangkrutan ini disebabkan oleh Jim van doren (adik paul van doren) yang saat itu menjabat sebagai vice president, membuat produk sepatu selain jenis keds. Jim ingin mengembangkan pasar Vans lebih luas dan menyaingi brand nike, adidas, reebok, dan puma yang sudah jauh memimpin pasar sepatu ini. Namun hal itu malah membuat vans menjadi bangkrut karena cost produksi yang tinggi dan pasar tidak terlalu suka dengan produk tersebut. Hingga pada tahun 1988 hak kepemilikan perusahaan vans dibeli oleh McConval-Deluit Corp seharga $75juta. Setelah kontrak dengan McConval-Deluit habis pada tahun 90an, Vans dibeli oleh VFcorp sebuah perusahaan yang sangat concern dengan "Youth Culture" seperti bilabong, quicksilver, dll. Inilah dimana vans membangun music brandingnya, setelah semua urusan intern telah terkendali VFcorp.

Vans Warped Tour 2012 Compilation

Vans yang awalnya merupakan sepatu custom, tidak terlalu memikirkan bagaimana strategi brandingnya. Tetapi ketika Paul Van Doren melihat bahwa kegiatan skateboard di Southern California ini sangat erat hubungannya dengan dunia musik. Setiap kompetisi skateboard pasti menyisipkan pertunjukan musik yang meningkatkan semangat dan adrenalin para peserta. Paul Van Doren mendapat tawaran dari Kevin Lyman (owner 4FINI) untuk membuat sebuah festival kompetisi skateboard dan acara musik terbesar di California saat itu. Pucuk dicinta ulam pun tiba, pihak Vans langsung saja mengiyakan menggelar festival ini, setelah beberapa tahun berjalan event ini menjadi semakin besar dan menjadi bagian dari Music Culture saat itu di California. Mungkin kalau di Inggris bisa di ibaratkan dengan sepatu Doc Mart. Branding dari vans ini menjadi benchmark banyak brand yang akan melakukan music branding.

Kevin Lyman

Tuesday, June 12, 2012

[review] Brand Indonesia Yang Bersuara

Logo Crooz Cloth & Peter Says Denim
Apakah anda pernah mendengar kedua nama tersebut? Atau anda pernah melihat anak - anak remaja menggunakan produk berlogo ini? Jika anda googling nama ini anda mungkin akan menemukan sebuah website yang berisi lookbook dengan model band alt rock seperti august burn red, go radio yep pasti anda mengira ini adalah produk asal paman sam. Mengingat yang menjadi model adalah band - band line up dari Warped Tour. Kedua brand ini adalah brand asli indonesia dan berasal dari indonesia yang cukup sukses membaca pasar musik ini. Jika kembali mengingat beberapa tahun silam, saya pertama kali mendengar nama Peter say sorry dari top friend band -band pop punk bandung di myspace. Saat itu saya melihat aneh sekali band band lokal tapi merchnya celana jeans yang notabene harganya hampir sama dengan brand - brand denim import. Waktu itu saya mengira nggak mungkin laku tuh merchandise selain karena harganya mahal dan brandnya belom terkenal juga. Tapi setelah beberapa tahun kemudian saya melihat sebuah kolom iklan di majalah AltPress Magz, band asal bandung Rocket Rockers menjadi image iklan produk Peter Say Denim. Saat itu saya mengira itu produk dari amrik karena memang rocket rockers dari tahun 90an sudah di endorse oleh brand skate / streetwear volcom. Iseng - iseng saya googling nama tersebut ternyata Peter say denim juga memakai August Burn red sebagai modelnya, setelah melihat lokasi tokonya ternyata ini adalah brand asal bandung, Indonesia. Wah membanggakan sekali bisa melihat brand asal Indonesia menembus pasar amerika serikat.

Peter Say Denim Alive and Kickin Compilation
Saat itu mungkin psd sudah melihat bahwa animo musik di dunia sedang memuncak dan memprediksi seiring meningkatnya animo bermusik, permintaan produk fashion sebagai pendukung penampilan akan ikut meningkat pula. Mungkin mereka melihat disekitarnya bahwa anak muda indonesia suka menggunakan produk yang ke barat - baratan, ini menjadi motivasi psd untuk mengejar pasar di Amerika dahulu. Terbukti setelah mereka berhasil dengan komunitas AltRock di Amrik, pasar di Indonesia pun langsung tertarik. Untuk memperkuat brandnya PSD melihat bahwa pasarnya yang sebagian besar penikmat / bermain musik alt rock membutuhkan sebuah label rekaman yang dapat mengakomodasi kegiatan bermusiknya. Segera saja mereka membuat sebuah label rekaman, merilis sebuah kompilasi dan melakukan tour 5 kota besar di indonesia.


Hampir sama dengan PSD, crooz merupakan clothing asal jakarta yang sebenarnya saat itu akan segera bangkrut karena mereka belum bisa menentukan bagaimana brandingnya. Mereka hidup dari komunitas band yang cukup besar di jakarta saat itu, saat itu banyak band yang ingin membuat merchandise dengan teknik sablon bagus namun mereka belum tau harus kemana dan harus memasarkannya kemana. Segera saja crooz melihat peluang ini, dan terbukti banyak sekali band yang sudah berkerjasama dan merchandise di produksi oleh crooz. Melihat animo bermusik anak muda yang sangat meluap ini, crooz juga membuat sebuah label rekaman untuk mengakomodasi pasarnya.

Kemungkinan kalau kita melihat CSR dari brand - brand besar yang merangkul ukm, cara membuat label rekaman ini bisa menjadi pilihan yang jitu. Mungkin kalau ada lomba wirausaha lagi, boleh dicoba buat bikin label rekaman ini. hehehe

[Reportase] Wrangler Battle of The Bands

Logo Wrangler Battle of the Bands
Tanggal 19 mei silam sekitaran jalan ketabang surabaya menjadi sangat berisik, bukan karena macetnya area parkir mall Grandcity tapi karena ada hajatan "Battle of The Band" dari brand celana jeans Wrangler. Acara tersebut berlangsung dari siang hingga malam hari dan pada puncak acara diumumkan siapa pemenang dari Battle of the Bands ini. Battle of the Band berlangsung baru tahun ini dan diselenggarakan di 5 kota besar. Untuk mengikuti Battle of The Bands ini mereka cukup mengupload demo lagu mereka ke website prambors radio dan memakai produk Wrangler saat tampil. Sebagai hadiah dari lomba ini mereka memberikan voucher belanja produk wrangler, dan uang tunai. Sekilas acara ini hampir sama dengan festival band milik brand-brand rokok itu, tapi yang berbeda disini look and feelnya sangat alt rock sekali menurut saya. Sesuai dengan konsep brand Wrangler yang rebel dan sangat anak muda saya rasa cocok sekali untuk melakukan sentuhan music branding meskipun mereka tidak mengkhususkan sebagai music outfit.

Crowd Wrangler Battle of The Bands
Wrangler melihat antusiasme bermusik anak muda di Indonesia yang sangat meluap menjadi sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan. Yang terjadi saat acara ini akan berlangsung saya melihat anak-anak muda di Surabaya sangat bersemangat dan mereka rela untuk merongoh dompetnya lebih dalam demi membeli produk wrangler. Brand - brand denim besar sepertinya tidak mau kalah dengan maraknya produk dalam negeri yang semakin merajai di negaranya sendiri. Agar tidak tergerus jaman mereka akhirnya perlu untuk merangkul komunitas yang ada di Indonesia. Seperti contohnya Lee Coper yang sudah lebih dulu merangkul komunitas "Pecinta denim (denim heads)" dengan program raw denimnya. Saya yakin Industri musik ini akan semakin menggairahkan dengan adanya 'lahan baru' untuk para pelaku industri musik. :D


Monday, June 4, 2012

[Feature] Dibajak atau Dipromosikan

Sebuah headline website menuliskan "RBT / NSP diberhentikan" saat beberapa waktu silam. Wah, mengagetkan sekali berita ini, karena sebelumnya saya kira rbt benar-benar menjadi lahan yang cukup subur untuk industri musik. Karena mereka tidak perlu untuk memproduksi musik dalam bentuk album yang berkualitas standar industri, cukup satu lagu dan kualitas speaker handphone. Hal ini menurut saya seperti mematikan industri tersebut secara perlahan, karena mereka belum berfikir untuk memposisikan band sebagai brand.

Sekarang coba bandingkan dengan industri musik yang memproduksi musik-musik cutting edge, mereka saya rasa lebih kreatif dalam hal 'jualan'. Tidak perlu berasosiasi dengan warung ayam yang sedikit memaksa saat berjualan, mereka lebih memilih jalan untuk melakukan sharing kepada para fansnya. Banyak sekali musisi yang 'menggratiskan' lagu mereka di download secara legal namun albumnya dalam bentuk CD masih terjual cukup baik. Kenapa begitu? Yep! Semua itu karena loyalitas. Trus muncul pertanyaan 'apa nggak rugi tuh labelnya, kalo bs download gratis dulu?'. Jawabannya ya 'tidak' kalo yang dicari memang loyalitas dari fans, karena menumbuhkan loyalitas bukan seperti mencari followers di twitter, lebih seperti manfaat apa yang bisa diberikan kepada para fans.

Jadi menurut saya harusnya senang kalo lagu banyak beredar di situs-situs sharing file. Namanya bisa jadi banyak dikenal dan awareness meningkat. :D

Tuesday, March 27, 2012

[Review] Bersedekah ala Converse

Converse Made In Music Banner

Siapa yang tidak kenal Brand Sepatu Converse. Mungkin bagi sebagian orang bisa jadi converse adalah sepatu yang wajib dimiliki paling tidak satu pasang seumur hidupnya. Bisa saya pastikan 9 dari 10 anak muda di dunia paling tidak pernah memiliki satu sepatu converse (asli ataupun tiruan). Karena memang begitu kuat positioning converse dimata anak muda. Setiap tahunnya mereka selalu berinovasi terhadap brandingnya. Saat ini converse merangkul 4 sub-kultur anak muda yang memang sangat dekat dengan kehidupan anak muda, yaitu music, skateboard, basketball, dan style.

Mari kita lihat lebih jauh music branding yang dilakukan converse saat ini. Akhir tahun 2011 lalu converse baru saja merilis sebuah campaignnya "Converse Rubber Tracks". Converse Rubber Tracks adalah sebuah program dimana sebuah band bisa mengajukan rekaman selama 1-2hari di studio berkelas professional secara gratis. Wow! Hal ini pasti sangat menarik bagi para band-band yang ingin memproduksi musiknya dengan kualitas professional namun tidak memiliki produser untuk membiayainya. Padahal biaya untuk memproduksi sebuah lagu di studio professional bisa memakan biaya sekitar US$2000 - US$8000. Converse membangun sebuah studio di Brooklyn, NYC dengan peralatan rekaman professional yang berkerja sama dengan Guitar Center. Menurut Goff Cottrill (CEO Marketing Converse) "Converse melakukan hal ini karena ingin berterimakasih kepada para musisi yang senantiasa menggunakan produk mereka hingga menjadi sebuah kultur tersendiri dikalangan musisi". Sangat mulia sekali hal ini jika dilakukan oleh brand-brand besar di negeri kita. Mungkin di Indonesia pernah dilakukan oleh beberapa brand rokok besar, tetapi pada kenyataannya tetap saja mereka membuat ajang kontes yang pada akhirnya berusaha menghilangkan unsur idealis dalam berkaryanya.

Converse Rubber Tracks Logo

Dari sisi strateginya, converse melakukan hal yang tidak jauh berbeda dengan music branding lainnya. Yaitu dengan membuat sebuah komunitas tersendiri. Disini membuat komunitas bukan dalam arti kata mereka mengumpulkan beberapa orang lalu mengorganisir untuk menyukai produknya. Mereka cukup mencari tau sesuatu yang paling digemari oleh target market mereka. Setelah itu mereka meriset apa saja yang menjadi 'Needs' dalam sebuah musik. Disini converse melihat banyak sekali anak muda yang memiliki band / sebuah karya musik tetapi tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkannya. Mereka melihat ada beberapa penyebab salah satunya mereka tidak bisa memproduk musiknya dengan kualitas professional karena memang keterbatasan budget. Disinilah converse melihat celah untuk membuat sebuah promosi yang sangat unik.

Dalam "Converse Rubber Track" tidak hanya melakukan recording saja. Mereka membuat sebuah studio update yang secara tidak langsung bisa menjadi menjadi bentuk promosi yang berlanjut. Memiliki studio update sangat menarik karena bisa dinikmati seperti membaca blog dan tentu saja menambah fans dari converse. Sangat efektif sekali bentuk Music Branding seperti ini, tanpa harus seperti memaksa membeli tetapi malah memberi sesuatu kepada fans mereka.